Showing posts with label articles. Show all posts
Showing posts with label articles. Show all posts

Saturday

peringatan indah buatku-versi copy paste

bismillahirrahmanirrahim... salam alaik...

artikel ini aku copy and paste dari facebook kak dina....moga bermanfaat...


Terima Kasih atas email ni sister Anfaal....
  
Dari Abu Hurairah radhiyaAlllahu ‘anhu, bahawa suatu ketika Nabi sallaAllhu ‘alaihi wasallam memberi khabar gembira kepada para sahabatnya seraya bersabda;
“Telah datang kepada kamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan untuk berpuasa. Di bulan ini pintu-pintu syurga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup; sejahat-jahat syaithan dibelenggu. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhalangi dari mendapatkan kebaikan (pahala) malam itu; bererti dia telah terhalangi untuk mendapatkan kebaikan yang banyak” (HR. Ahmad dan An-Nasa’ie disahihkan oleh Syu’aib al-Arnauth)

Dalam khutbah Baginda yang panjang sempena menyambut Ramadhan, RasululuLlah s.a.w bersabda antara lainnya;

“Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu...

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu solatmu keranaa itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab seruan mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai kerana amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat kerana beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjangkan sujudmu.
Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaranNya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang solat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah s.a.w meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.” 

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan 
berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.

 Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaanNya di hari kiamat. 

Barangsiapa menahan buruk perilakunya di bulan ini, Allah akan menahan murkaNya pada hari ia berjumpa denganNya. 

Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa denganNya. 

Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmatNya pada hari ia berjumpa denganNya.

 Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmatNya pada hari ia berjumpa denganNya. 

Barangsiapa melakukan solat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.

 Barangsiapa melakukan solat fardhu baginya ganjaran seperti melakukan 70 solat fardhu di bulan lain. 

Barangsiapa memperbanyak salawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan  meringan.

 Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat al-Qur’an, ganjarannya sama seperti mengkhatam al-Qur’an pada bulan-bulan yang lain” (HR Ibnu Huzaimah)

Friday

berbaloi penat lelahku.....by wardina safiyyah

bismillahirrahmanirrahim....salam alaik.....semoga bermanfaat....

Dear Mama, Ummi, Mum,  Ibu, Bonda...

I have to share this with you... because i feel so happy and i feel that all my penat lelah paid off...

I started to make my Amna to solat 5 times a day when she was 7, on her 7th birthday...we had a talk...(check note lama) tapi preparation since 6 la...tapi dari kecik memang selalu ikut2 la kami solat....she hasnt missed her solat since. Walaupun lambat, tetap solat. I made sure of that - because the key is SOLAT ni kalau tak tanam dari kecik memang LIAT nanti....But it is very important to keep this in mind:-

1) kalau kita bagi dia tinggal WALAUPUN sekali nanti we are sending the wrong signal - kena make sure - every waktu without fail, walaupun penat, ataupun lambat

2)l Selalu kalau boleh solat together..mula2 memang kena solat together....kalau tak ada rumah make sure an adult in the house pastikan anak kita solat. (hari tu Amna pergi her reading class, i asked her teacher to take her to the suarau) - lepas solat time tu lah peluk cium, senyum - i always kiss her at the head and say "Barakallahufiha" Ya Allah make my Amna a good Muslim Ya Allah....make her never miss her solat Ya Allah.....kuat2 bagi dia dengar....ps:- kalau kena amik cuti ambillah -  bukan waktu exam je amik cuti - buatlah STEP ini, yakni melangkah ke alam 7 thaun dan tidak meninggalkan solat A BIG Thing! "mama amik cuti hari ni sebab nak pastikan yang adik solat 5 waktu sehari!"

3)Selalu cerita how IMPORATANT it is to solat..how Allah is watching us... how we are good Muslims when we solat, how Allah loves us, Solat tu, untuk kita, bukan untuk Allah.....TAPI selalu jugak cerita yang akan ada orang TAK solat...acknowledge the fact that sometimes we feel lazy to solat....itu semua kerja SETAN! Fight them off....! I tell Amna that even some grown ups tak solat! I tell Amna that....we have to be strong.. we have to tell ourselves we will NEVER miss our solat.....

4)Awal2 subuh ni memang tak bangunkan, tapi as soon as dia bangun pagi, ill ask her to solat straight away.(yes memang leceh..but we have to, and we have to do it with LOVE diselang seli dgn strictness)

5)kalau dia tinggal -  DENGAN sengaja, i take the rotan and hit her on her tapak tangan slowly, just as a reminder. After that i hug her and tell her i love her, and i just want her to remember - and guess what?? memang dia ingat!!! (3 kali baru, i think not bad, sampai satu hari dia terlambat solat, sebab keluar dan memang tak ingat, dia yang suruh rotan) But i tell her kalau TERLUPA atau TERTIDUR its ok...but kena solat terus bila bangun.

Macam ni ceritanya, i told Amna, kalau Ummi ambik Amna dari sekolah lambat, Amna solat dulu Asar kat sekolah....tadi memang datang lambat...i was loking for her..and guess what????

She was actually praying her Asar prayers...sorang je kat dalam surau tu....i wanted to pengsan and cry...she did all by herself.... i pun told her how happy and how proud i was of her...i tanya dia kenapa? dia kata "Amna ingat apa Ummi cakap".....cair nya hatiku ini.

Apa lagi, Ummi ni peluk cium dia....and called nenek at Australia...now im sharing with all of you!!! Because i want us to raise generation of good Muslims that are disciplined, smart, intelligent -that remembers Allah because  the world so BADLY needs good QUALITY Muslims like this!!!

And the foundation is - to start them off right - solat at SEVEN! Yes just as how Rasulullah asked us!

I love you all!!! Good night.....

But the key to all this IS Mak Ayah KENA dan WAJIB solat dulu...anak ketam tak boleh diajar berjalan terus...fahamkan?

** i took that picture of Amna praying from my table, dia sendiri bangun solat Isyak...without even bothering me..berbunga hati seorang ibu....






Thursday

Why I Shed Bikini for Niqab

bismillahirrahmanirrahim.....im sharing a very inspiring article....im crying while reading....semoga bermanfaat....

-By Sara Bokker

I am an American woman who was born in the midst of America's "Heartland." I grew up, just like any other girl, being fixated with the glamour of life in "the big city." Eventually, I moved to Florida and on to South Beach of Miami, a hotspot for those seeking the "glamorous life." Naturally, I did what most average Western girls do. I focused on my appearance and appeal, basing my self-worth on how much attention I got from others. I worked out religiously and became a personal trainer, acquired an upscale waterfront residence, became a regular "exhibiting" beach-goer and was able to attain a "living-in-style" kind of life.


Years went by, only to realize that my scale of self-fulfillment and happiness slid down the more I progressed in my "feminine appeal." I was a slave to fashion. I was a hostage to my looks.

As the gap continued to progressively widen between my self-fulfillment and lifestyle, I sought refuge in escapes from alcohol and parties to meditation, activism, and alternative religions, only to have the little gap widen to what seemed like a valley. I eventually realized it all was merely a pain killer rather than an effective remedy.

By now it was September 11, 2001. As I witnessed the ensuing barrage on Islam, Islamic values and culture, and the infamous declaration of the "new crusade," I started to notice something called Islam. Up until that point, all I had associated with Islam was women covered in "tents," wife beaters, harems, and a world of terrorism.

As a feminist libertarian, and an activist who was pursuing a better world for all, my path crossed with that of another activist who was already at the lead of indiscriminately furthering causes of reform and justice for all. I joined in the ongoing campaigns of my new mentor which included, at the time, election reform and civil rights, among others. Now my new activism was fundamentally different. Instead of "selectively" advocating justice only to some, I learned that ideals such as justice, freedom, and respect are meant to be and are essentially universal, and that own good and common good are not in conflict. For the first time, I knew what "all people are created equal" really means. But most importantly, I learned that it only takes faith to see the world as one and to see the unity in creation.

One day I came across a book that is negatively stereotyped in the West--The Holy Qur'an. I was first attracted by the style and approach of the Qur'an, and then intrigued by its outlook on existence, life, creation, and the relationship between Creator and creation. I found the Qur'an to be a very insightful address to heart and soul without the need for an interpreter or pastor.

Eventually I hit a moment of truth: my new-found self-fulfilling activism was nothing more than merely embracing a faith called Islam where I could live in peace as a "functional" Muslim.

I bought a beautiful long gown and head cover resembling the Muslim woman's dress code and I walked down the same streets and neighborhoods where only days earlier I had walked in my shorts, bikini, or "elegant" western business attire. Although the people, the faces, and the shops were all the same, one thing was remarkably distinct--I was not--nor was the peace at being a woman I experienced for the very first time. I felt as if the chains had been broken and I was finally free. I was delighted with the new looks of wonder on people's faces in place of the looks of a hunter watching his prey I had once sought. Suddenly a weight had been lifted off my shoulders. I no longer spent all my time consumed with shopping, makeup, getting my hair done, and working out. Finally, I was free.

Of all places, I found my Islam at the heart of what some call "the most scandalous place on earth," which makes it all the more dear and special.

While content with Hijab I became curious about Niqab, seeing an increasing number of Muslim women in it. I asked my Muslim husband, whom I married after I reverted to Islam, whether I should wear Niqab or just settle for the Hijab I was already wearing. My husband simply advised me that he believes Hijab is mandatory in Islam while Niqab is not. At the time, my Hijab consisted of head scarf that covered all my hair except for my face, and a loose long black gown called "Abaya" that covered all my body from neck to toe.

A year-and-a-half passed, and I told my husband I wanted to wear Niqab. My reason, this time, was that I felt it would be more pleasing to Allah, the Creator, increasing my feeling of peace at being more modest. He supported my decision and took me to buy an "Isdaal," a loose black gown that covers from head to toe, and Niqab, which covers all my head and face except for my eyes.

Soon enough, news started breaking about politicians, Vatican clergymen, libertarians, and so-called human rights and freedom activists condemning Hijab at times, and Niqab at others as being oppressive to women, an obstacle to social integration, and more recently, as an Egyptian official called it--"a sign of backwardness."

I find it to be a blatant hypocrisy when Western governments and so-called human rights groups rush to defend woman's rights when some governments impose a certain dress code on women, yet such "freedom fighters" look the other way when women are being deprived of their rights, work, and education just because they choose to exercise their right to wear Niqab or Hijab. Today, women in Hijab or Niqab are being increasingly barred from work and education not only under totalitarian regimes such as in Tunisia, Morocco, and Egypt, but also in Western democracies such as France, Holland, and Britain.

Today I am still a feminist, but a Muslim feminist, who calls on Muslim women to assume their responsibilities in providing all the support they can for their husbands to be good Muslims. To raise their children as upright Muslims so they may be beacons of light for all humanity once again. To enjoin good--any good--and to forbid evil--any evil. To speak righteousness and to speak up against all ills. To fight for our right to wear Niqab or Hijab and to please our Creator whichever way we chose. But just as importantly to carry our experience with Niqab or Hijab to fellow women who may never have had the chance to understand what wearing Niqab or Hijab means to us and why do we, so dearly, embrace it.

Most of the women I know wearing Niqab are Western reverts, some of whom are not even married. Others wear Niqab without full support of either family or surroundings. What we all have in common is that it is the personal choice of each and every one of us, which none of us is willing to surrender.

Willingly or unwillingly, women are bombarded with styles of "dressing-in-little-to-nothing" virtually in every means of communication everywhere in the world. As an ex non-Muslim, I insist on women's right to equally know about Hijab, its virtues, and the peace and happiness it brings to a woman's life as it did to mine. Yesterday, the bikini was the symbol of my liberty, when in actuality it only liberated me from my spirituality and true value as a respectable human being.

I couldn't be happier to shed my bikini in South Beach and the "glamorous" Western lifestyle to live in peace with my Creator and enjoy living among fellow humans as a worthy person. It is why I choose to wear Niqab, and why I will die defending my inalienable right to wear it. Today, Niqab is the new symbol of woman's liberation.

To women who surrender to the ugly stereotype against the Islamic modesty of Hijab, I say: You don't know what you are missing.

Sara Bokker is a former actress/model/fitness instructor and activist. Currently, Sara is Director of Communications at "The March For Justice," a co-founder of "The Global Sisters Network," and producer of the infamous "Shock & Awe Gallery."

Friday

Saya tak nak ‘hot’ di dunia sebab takut ‘hot’ di akhirat

bismillahirrahmanirrahim....salam alaik....sharing one good article...moga bermanfaat....

Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apa gunanya aku menjadi perhatian lelaki andai murka Allah ada di situ. Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang. Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati. Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan. Bagaimana akan kujawab di hadapan Allah kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi?

Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias peribadiku kerana itulah yang dituntut oleh Allah. Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik? Tidak kunafikan sebagai wanita, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu kerana ia semata-mata untukmu. Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain. Engkau berhak mendapat kasih yang tulen.

Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat lelaki-lelaki berhidung belang ingin mendekati diriku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tetapi mereka tetap tidak berputus asa. Aku merasa seolah-olah kehidupanku yang tenang ini telah dirampas dariku. Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan? Aku beristighfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan. Kehadiran mereka membuatku banyak memikirkan tentang dirimu. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku. Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu. Aku tahu lelaki-lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki penggoda itu bukan teman hidupku kelak.

Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana. Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita yang lain, dilamar lelaki yang bakal memimpinku ke arah tujuan yang satu. Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, yang mampu mendebarkan hati jutaan gadis untuk membuat aku terpikat.

Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Luh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dibazirkan perasaan itu kerana kita masih tidak mempunyai hak untuk membuat begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.

Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari redha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku. Aku pasti berendam airmata, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu hanya kepadaku semata-mata.
Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu kerana dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku kerana-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga. Seorang gadis yang membiarkan dirinya dikerumuni, didekati, diakrabi oleh lelaki yang bukan muhrimnya, cukuplah dengan itu hilang harga dirinya di hadapan Allah. Di hadapan Allah. Di hadapan Allah.

Yang dicari walau bukan putera raja, biarlah putera Agama. Yang diimpi, biarlah tak punya rupa, asal sedap dipandang mata. Yang dinilai, bukan sempurna sifat jasmani, asalkan sihat rohani dan hati. Yang diharap, bukan berapinya jihad pada semangat, asal perjuangannya ada matlamat. Yang datang, tak perlu rijal yang gemilang, kerana diri ini serikandi dengan silam yang penuh luka. Yang dinanti, bukan lamaran dengan permata, cukuplah akad dan janji setia. Dan yang akan terjadi, andai sama ataupun tidak dengan kehendak hati, Insya Allah ku redha kemahuan pilihan Illahi…

Wahai wanita, ku ingatkan diriku dan dirimu, peliharalah diri dan jagalah kesucian… Semoga redha Allah akan sentiasa mengiringi dan memberkati perjalanan hidup ini. Amin.